Senin, 23 Maret 2009

just ordinary people

mulai hal terdekat...

Rumah,,

Mengingatnya,, seakan membawa memoriku ke suatu tempat di kaki gunung nan sunyi dan asri, sisa api yang menyala kala tersier yang kekuatannya mampu mengelapkan seluruh dunia, dan membinasakan jutaan makhluk di sekitarnya yang merupakan manifestasi penunjaman kerak bumi berpalung jauh di samudra hindia. Kini dia telah mati tapi jadi sumber kehidupan diantaranya muncul mata air- mata air mungil penopang kehidupan di sekitarnya yang bergabung menjadi sungai besar nan gagah yang mengalir membelah lapisan tebal batuan endapan vulkanik warisan nenek moyang, sungai serayu. Sungai tua yang masih berusaha merayap membawa material yang dimuntahkan dari daratan di atasnya yang bebannya kini semakin berat akibat perbuatan manusia yang tak tau diri menebang tanaman penopang yang menahan aliran sedimen, beban sang sungai. Kecilku di sana tak kenal gemerlapnya dunia, tak kenal kemacetan kota, tak kenal trend metropolitan. Yang kutahu aku hidup, aku bahagia, dan membahagiakan orang di sekitarku. Suatu unforgettable moment pernah menjadi bagian dari sebuah keindahan.

Serayu tua yang kuat…

Serayu telah mengalir, sebelum aku dapat membuka mata, sebelum orang belajar mengenalinya, sebelum dia ditetapkan kepemilikannya, bahkan telah ada dan menghidupi makhluk di sekitarnya sejak berjuta tahun sebelum adanya peradaban.

Serayu tua terus mangalir dan berpindah,, aliran derasnya dihentikan 2 kali,, tepat di pemberhentian kedua kini aku duduk dan menghadap timbunan airnya,, yang mengalir perlahan namun menghanyutkan. Dari sinilah cahaya berasal. Cahaya yang terangi jutaan manusia dari ujung kulon hingga pulau dewata nan elok,,


Tidak ada komentar:

Posting Komentar